Posts filed under: ‘Parenting‘




Anak Dipanggil Cuek, Ortu Mesti Curiga

Jakarta – Seringkali gangguan pendengaran pada anak terlambat dideteksi oleh orangtua. Oleh karena itu deteksi anak sejak usia dini terutama pada indera pendengaran diperlukan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak. Tidak hanya deteksi, alat bantu pendengaran diperlukan untuk memperlancar komunikasi anak tuna rungu.

Audiolog dan pakar pendidikan anak tuna rungu Drs. Anton Subarto, Dipl Aud mengatakan sering terjadi kejadian orangtua terlambat mendeteksi pendengaran anak. Biasa orangtua melihat usia anak 4 hingga 5 tahun bahkan lebih, baru menyadari ada keanehan pada anak. Oleh karena itu, orangtua dituntut untuk cermat mengasuh anak sejak lahir.

“Bila anak usia 2 tahun belum bisa bicara, bila mendengar petir atau gledek tenang-tenang saja seharusnya orangtua harus curiga, bila ada kecurigaan pada pendengaran anak segera bawa ke dokter THT,” ujar Anton pada acara bantuan 100 alat bantu dengar oleh Pusat Alat Bantu Dengar Melawai, Kamis (6/8) di Jakarta.

Sikap kewaspadaan diperlukan untuk lebih cepat mengetahui gangguan pendengaran pada anak. Hal tersebut untuk mengetahui penanganan yang tepat bagi anak tuna rungu. Setiap anak memiliki kesempatan untuk berkarya tidak terkecuali anak tuna rungu. Dengan sikap benar dari orangtua dan guru maka anak tuna rungu mampu untuk mengembangkan kemampuan anak tuna rungu. Anton mengatakan anak tuna rungu bisa berprestasi seperti anak normal. Menurutnya, sering kali orangtua tidak percaya anaknya tuna rungu, seharusnya orangtua bisa menerima kenyataan anaknya tuna rungu.

“Anak tuna rungu jangan disembunyikan, kadang ada orangtua membawa anak ke pengobatan alternatif seperti dukun dan paranormal padahal anaknya sudah tuli saraf yang tidak bisa disembuhkan,” tutur Anton.

Dengan pendidikan yang tepat sejak dini dan memiliki sikap berjuang dari anak dan orangtua maka tidak ada yang tak mungkin untuk diraih. Menurut Anton, pendidikan tepat sejak anak usia dini bagi anak tuna rungu harus diberikan yaitu kemampuan berbahasa. Orangtua adalah guru pertama bagi anak di rumah. Sehingga pola asuh penting untuk anak tuna rungu. Orangtua bisa mengembangkan bahasa lisan anak tuna rungu dengan selalu mengajak anak tuna rungu berbicara.

“Anak harus melihat wajah dan mulut orangtua karena anak tuna rungu harus membaca ujaran dan mendengarkan dengan alat bantu dengar,”tambah audilogist dari Pusat Alat Bantu Dengar Melawai.

Menurut Anton, tugas dan peranan yang dilakukan orangtua di rumah antara lain Pertama, memberikan bahasa oral kepada anak. Orangtua bisa selalu mengajak anak bercakap-cakap dalam segala situasi misal mau dimandikan, mau makan, dan bermain. Kedua, Orangtua melatih anak mendengar dengan memakai alat bantu dengar dalam segala situasi misal saat ayah menghidupkan mobil, membunyikan klakson anaknya disuruh mendengarkan, orangtua meminta mendengarkan bunyi dering telepon. Ketiga, orangtua melatih anak meraban dalam segala situasi misal saat dikenakan baju orangtua dengan memancing anak untuk meraban babababa, saat bermain mobil-mobilan anak diajak menirukan suara mobil dengan menggetarkan kedua bibir.

Untuk mengembangkan kemampuan akademik dan potensi anak, orangtua perlu mengupayakan sekolah yang tepat bagi anak untuk mengembangkan bahasa lisan dan tulisan anak tuna rungu.

Salah satu finalis Fun Fearless Cosmopolitan 2008 Angkie Yudistia, seorang penderita tuna rungu mengatakan ayahnya memang curiga ketika memanggil dirinya tidak menyahut-nyahut. Setelah mengetahui Angkie menderita tuna rungu maka orangtuanya mendidik untuk gemar membaca. Dengan gemar membaca membuat wawasan Angkie menjadi luas. Saat ini Angkie menggeluti dunia modelling dan sedang menempuh pendidikan S2. (amh)

Add a comment Agustus 7, 2009

Awas Pedofil Berkeliaran Online

Jakarta - Saat ini anak-anak sudah sangat pintar bermain internet. Anak tumbuh berkembang bersama internet. Bila anak terlalu banyak menghabiskan waktu di internet maka akan mempengaruhi fisik dan mental anak. Ketika anak asyik berselancar di internet, orangtua sebaiknya mendampingi anak.

Menurut psikolog dari Universitas Yarsi Octaviani Ranakusuma. Anak bisa menyembunyikan identitas dengan menciptakan dan menggunakan identitas baru di dunia maya. Anak pun cenderung tidak memiliki tanggung jawab terhadap apa yang dikatakan di dunia maya. Di dunia maya, seseorang mengontrol keberadaan atau eksistensinya. Bila tidak suka, maka bisa langsung memutuskan hubungan antara lain menutup situs dan mengakhiri chatting.

“Di dunia nyata apabila diperhadapkan dengan situasi yang tidak menyenangkan, kita tidak bisa langsung menghindari, kita dipaksa harus menghadapinya, dan mengontrol emosi untuk dapat mengutarakan ketidaksukaan kita namun dengan cara yang bisa diterima lingkungan, berbeda dengan di dunia maya,” kata Octaviani.

Fisik dan mental anak pun sangat terpengaruh apabila anak banyak menghabiskan waktu di depan komputer. Anak yang rendah diri karena selama ini tidak diterima oleh teman-teman di sekolah, mungkin akan menampilkan pribadi berbeda. Anak bisa menampilkan diri sebagai anak ceria dan gaul yang disukai oleh teman-teman chatting. Octaviani menambahkan bila itu terjadi, anak akan merasa “betah” sehingga semakin mengucilkan diri dari lingkungan sosial. Ruang dan aktifitas anak semakin sempit yang dapat mempengaruhi kebugaran fisik dan kesehatan anak.

Octaviani mengungkapkan kehadiran ‘stalker’ atau pedofil bisa hadir kapan saja saat anak sedang online. Orangtua pun harus mewaspadai saat anak sedang online, karena kehadiran pedofil bisa kapan saja mulai dari ajakan untuk berkenalan dan hingga mengirimkan gambar tidak senonoh, dan akhirnya ajakan ekplisit tidak pantas bisa terjadi pada anak. Octaviani memberikan tips kepada orangtua saat anak asik berinternet, berikut tipsnya:

1. Dampingi anak saat sedang online dan membuka account. Apabila memang harus memiliki account di dunia maya, sebaiknya orangtua membuat perjanjian dengan anak, orangtua yang membuka account dan password sehingga bisa memantau aktifitas anak di dunia maya.

2. Perhatikan siapa saja kawan-kawan anak di dunia maya. Cermati pesan-pesannya. Waspadai pesan yang mencurigakan.

3. Bekali anak dengan pendidikan seksual sesuai dengan usia anak. Ada hal yang orang lain boleh tahu tetapi ada informasi yang sangat pribadi. Bersikap terbuka pada anak membuat anak merasa nyaman untuk menceritakan hal yang terjadi di dunia maya.

4. Untuk memudahkan pemantauan hindari meletakkan komputer dengan sambungan internet di kamar anak. Letakkan komputer di ruang keluarga.

5. Orangtua sebaiknya melakukan online bersama anak sehingga anak melihat kegiatan browsing dan ngobrol di Facebook atau jejaring sosial lain merupakan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dan bukan private. (amh)

Add a comment Agustus 6, 2009

Anak Mulai Gaul dengan Orang Dewasa? Waspadalah

Jakarta - Sekitar 70 persen anak coba-coba narkoba pada jam pulang sekolah dan makan malam. Nah, waktu ini seharusnya menjadi perhatian orangtua.

Namun tidak hanya waktu yang diperhatikan, karena salah satu kunci mencegah anak dari narkoba yaitu peran aktif orangtua.

Ketua Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Veronica Colondam mengatakan kunci mencegah anak dari bahaya narkoba dengan terlibat aktif dalam kehidupan anak. Dengan terlibat aktif dalam hidup anak yaitu mengetahui perkembangan anak, teman dan orangtua teman anak. Veronica menambahkan orangtua harus memperhatikan critical years anak yaitu pada usia 11 hingga 14 tahun. Orangtua harus hati-hati di kelompok usia anak 11 hingga 14 tahun karena incident terbesar anak untuk mulai coba rokok, ganja, alkohol dan narkoba.

Critical years jangan sampai lewat sehingga komunikasi kedekatan orangtua dan anak sangat penting, bila orangtua mempunyai kedekatan dengan anak maka orangtua punya sense kalau ada yang salah dengan anak,” ujar  Veronica, Rabu (5/8) di Jakarta.

Veronica menyarankan orangtua mulai waspada ketika anak sering bergaul dengan teman-teman yang lebih tua sehingga perhatikan teman-temannya dan anak-anak yang suka menginap. Ia mengatakan bukan berarti selalu menginap itu terlibat bahaya narkoba tetapi orangtua harus hati-hati dan waspada. Bagi kedua orangtua yang bekerja, orangtua bisa tetap mengendalikan jarak jauh dengan penggunaan teknologi yaitu handphone.

Menurut Veronica, orangtua harus membuat aturan jelas yaitu telepon harus dijawab dan jangan dimatikan. Perhatikan pulang jam sekolah anak dan makan malam. Tetapi aturan yang dibuat jangan sampai mengekang anak. (amh)

1 komentar Agustus 5, 2009

Anak Anda Cerdas? Intip Ciri-cirinya

Jakarta – Siapa sih yang tak mau memiliki anak yang cerdas? Anak yang cerdas adalah anak yang mampu mengembangkan akal, memiliki daya imajinasi, dan selalu ingin tentang segala yang dilihatnya.

Menurut Psikologi Dr. Rose Mini AP, MPsi kecerdasan seorang anak dipengaruhi dua faktor yaitu faktor nature seperti gen atau bawaan, sedangkan faktor kedua adalah faktor nurture atau faktor lingkungan yang bisa mempengaruhi kecerdasaan anak salah satunya dengan memberinya stimulasi dan mengajarkan permainan yang mengasah berbagai kemampuannya.

Apakah si kecil termasuk anak yang cerdas? Yuk intip ciri-cirinya:

1. Selalu ingin tahu
Salah satu ciri anak yang cerdas adalah anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu hal dan senang belajar.

2. Aktif
Secara fisik anak yang cerdas terlihat lincah bergerak bebas, lentur dan atletis.

3. Lebih teliti
Anak yang cerdas memiliki ketelitian dan kecermatan yang tinggi. Ia juga mampu membedakan satu benda dengan benda yang lain dengan cepat.

4. Kreatif
Anak cerdas sering kali memiliki banyak ide dan senang menciptakan hal-hal baru.

5. Kritis
Anak cerdas selalu kritis dan lebih mewaspadi lingkungan sekitarnya, dan pandai memberikan penilaian terhadap segala hal yang ia lihat. (nam)

Add a comment Agustus 4, 2009

KDRT Mata Rantai yang Harus Diputus

Jakarta – Kasus kekerasan dalam rumah tangga khususnya terhadap perempuan sepertinya tiada henti. Pemberitaan di media massa  hampir setiap hari ada saja berita mengenai kekerasan terhadap perempuan, baik dari kalangan ekonomi rendah sampai yang sangat mapan.

Tengoklah salah satunya,  kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh penyanyi dangdut Cici Paramida. Kekerasan dalam rumah tangga juga dialami oleh istri direktur provider. Padahal kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya menyakiti pasangan tetapi juga anak.

Pertengkaran orangtua di depan anak akan berdampak pada kejiwaan anak. Apalagi terjadi kekerasan bisa membuat anak belajar dari apa yang dilihatnya. Pengalaman kekerasan yang dialami anak bisa mempengaruhi tingkah lakunya ketika menghadapi tekanan.

Menurut psikolog dari fakultas psikologi Universitas Yarsi Octaviani Indrasari, Psi., M.Si bila anak melihat orangtua bertengkar saat menghadapi masalah maka cara tersebut yang akan dipelajari dan dilakukan saat menghadapi masalah serupa di kemudian hari.

Anak belajar dari apa yang dialami dan diamatinya. Sehingga anak akan menganggap memukul pasangan adalah hal biasa yang dapat dilakukan saat marah. Kekerasan dalam rumah tangga bisa membuat anak perempuan belajar untuk menerima menjadi korban karena melihat ibunya dipukul dan tidak menerima perlawanan terhadap suaminya.

Sebaliknya, anak perempuan yang marah terhadap perlakuan ayah terhadap ibunya akan membangun kebencian terhadap lawan jenis. “Anak-anak yang mengalami dan mengamati kekerasan dalam rumah tangga setiap hari akan memiliki persepsi dan keyakinan berbeda dari orang kebanyakan tentang makna hubungan antar pribadi, sehingga mempengaruhi anak saat dewasa nanti dan saat mulai menjalin hubungan dengan lawan jenis,” tutur Octaviani.

Bila pengalaman kekerasan dalam rumah tangga sangat membekas kepada anak maka akan mempengaruhi tingkah laku terutama saat menghadapi tekanan.Kekerasan dalam rumah tangga pun seperti mata rantai sehingga harus diputus.

Octaviani mengatakan pengalaman kekerasan dalam rumah tangga yang begitu membekas harus ditangani sejak dini.Peranan orangtua dan keluarga besar sangat dibutuhkan untuk penyembuhan trauma kepada anak. “Ayah, ibu, dan keluarga besar bisa membantu meluruskan persepsi atau keyakinan anak apa yang terjadi adalah sesuatu insidental, dan tidak bersifat umum misalnya ayah memang orang yang pemarah dan kasar, tapi kakek seorang yang pengasih,” ujar Octaviani.

Trauma yang tidak ditangani akan sangat mempengaruhi bagaimana anak melihat diri dan posisi dirinya dalam kehidupan pernikahan. Octviani mencontohkan anak menempatkan diri sebagai bawahan lebih rendah dan lemah daripada pasangan yang dirinya dianiaya. Sebaliknya, anak bisa menempatkan diri di atas pasangan sehingga bertingkah laku agresif untuk mempertahankan superioritasnya.

“Seperti mata rantai, interaksi ini akan diamati oleh anak-anak mereka, sehingga mereka akan melakukannya di kemudian hari, mata rantai patalogis ini harus diputus dengan melakukan intervensi, terapi psikologis dengan metode cognitive behavior therapy akan sangat membantu,” tambahnya.

Untuk waktu terapi pun sangat bergantung pada kepribadian seseorang yang akan sangat mempengaruhi keterbukaan dalam menerima masukan dari orang lain maupun dari hal yang terjadi dalam hidupnya. Menurut Octaviani, semakin kuat keyakinan anak yang bersifat patologis misal semua laki-laki kejam dan perempuan lemah maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk melemahkan keyakinan tersebut untuk digantikan dengan keyakinan lebih positif terhadap diri dan lawan jenis.

Kekerasan tidak hanya menyakiti pasangan tetapi sangat berpengaruhi pada jiwa anak. Padahal anak berhak mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari orangtua. Octaviani menyarankan orangtua perlu memahami pertengkaran sebenarnya berawal dari perbedaan kepentingan antara suami dan istri bukan antara ayah dan ibu.

Usahakan selesaikan berdua tanpa perlu dilihat anak. Hindarkan mengabaikan suatu masalah sehingga akhirnya terakumulasi dan menjadi lebih sulit untuk dihadapi. Terakhir lakukan instropeksi diri terutama dalam hal pengelolaan emosi. “Perilaku agresif dan permisif sebenarnya merupakan cermin lemahnya kontrol emosi pada individu terkait, bila sulit untuk diselesaikan berdua segera cari bantuan pihak ketiga dari pihak keluarga atau bantuan profesional,” jelasnya.

Bila perpisahan menjadi jalan terbaik maka anak diberitahu dalam situasi tenang dan masing-masing ayah dan ibu berada dalam kondisi emosi stabil. Dengan cara ini anak memperoleh pengalaman suatu masalah dapat diselesaikan dengan cara yang dewasa. Anak dapat melihat perpisahan sebagai sesuatu yang menyedihkan tapi tidak dilihat sebagai sesuatu hal yang mengerikan. (Mel)

Add a comment Agustus 4, 2009

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Mei 2012
S S R K J S M
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Pos Berdasarkan Bulan

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.