Posts filed under: ‘Smart Tips (Kids)‘
Tanda-tanda Si Kecil Siap Toilet Training
Jakarta – Saatnya melatih si kecil untuk pipis sendiri di kamar mandi dan melepaskan popoknya. Ini memang pengalaman yang unik buat si kecil juga buat ibu. Setiap anak berbeda-beda mungkin ada yang hanya beberapa kali latihan sudah terbiasa, tapi ada juga ibu yang harus memutar otak untuk mengajari si kecil mau ke toilet sendiri.
Seperti dilansir Webmd.com, sebaiknya untuk mengajari anak untuk menggunakan toilet sendiri saat mereka berusia 22 hingga 30 bulan meski kesiapan tiap anak berbeda-beda.
Sebelum mereka bisa menggunakan toilet sendiri, setidaknya mereka harus sudah bisa mengendalikan otot usus dan kandung kemih, celananya selalu kering setidaknya hingga dua jam, dia sudah bisa merangkak, berbicara, membuka celananya sendiri serta beberapa kemampuan dasar motoriknya.
Kalau si kecil menolak untuk menggunakan toilet sendiri itu tandanya dia belum siap, jadi jangan dipaksa.
Tanda-tanda emosional anak siap untuk toilet training, antara lain:
1. Celana si kecil tetap kering minimal 2 jam pada suatu waktu sepanjang hari.
2. Si kecil tetap kering setelah bangun tidur.
3. Ekspresi wajahnya, sikap, atau kata-kata yang menyarankan kalau dia mau pipis atau gerakan yang menunjukkan keinginannya.
4. Si kecil bisa mengikuti langkah sederhana yang Anda ajarkan.
5. Si kecil juga mau berjalan sendiri ke toilet dari tempat tidurnya, serta mau melepas celananya sendiri.
6. Si kecil tampak tidak nyaman dengan popok kotor.
7. Si kecil meminta sendiri untuk pipis di toliet atau bahkan potty chair (semacam kursi yang berfungsi untuk membantu si kecil menggunakan toilet).
8. Si kecil mulai meminta memakai celana dalam dibandingkan popok. (nam)
Add a comment Agustus 6, 2009
Mengatasi Anak Sulit Makan
Jakarta - Memperhatikan pemenuhan nutrisi dan gizi pada anak sejak dini memang diperlukan untuk menunjang perkembangan buah hati yang meliputi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, perkembangan kepandaian serta kematangan sosial.
Menurut spesialis gizi klinik Dr. Fiastuti Witjaksono, SpG(K), nutrisi sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak agar optimal yang harus diperhatikan adalah jumlah yang cukup serta kualitas dari nutrisi tersebut yang terdiri dari
makro nutrisi seperti karbohidrat, protein dan lemak, selain itu mikro nutrisi lainnya seperti vitamin, mineral serta nutrisi lain yang berguna untuk kecerdasan anak seperti DHA, kolin dan prebiotik. Karena itu dalam hal ini peranan ibu sangat penting dalam memberikan nutrisi yang tepat untuk si kecil.
“Para ibu harus pandai mengatur asupan nutrisi untuk si kecil termasuk bisa menyiasati si kecil saat sulit makan. Usia satu tahun pertama adalah waktu yang tepat untuk membiasakan anak dengan beragam makanan, karena pada usia ini anak cenderung pasif menerima makanan, karena itu semakin bervariasi semakin baik,” jelas Fiastuti.
Setelah usia 6 bulan dengan air susu ibu (ASI) ekslusif ibu harus mengenalkan makanan padat lainnya, ibu juga harus sabar saat si kecil susah makan cobalah untuk mencari penyebabnya.
Selain itu ibu juga harus kreatif membuat makanan yang enak dan menarik selain itu usahakan jangan biasakan makanan si kecil dengan penyedap rasa. (nam)
Add a comment Agustus 5, 2009
Mengajari Si Kecil Berpuasa
Jakarta - Tak terasa Ramadhan akan datang sebentar lagi. Untuk kita yang sudah berusia dewasa dan terbiasa yakin deh tidak ada masalah lagi, kecuali yang memiliki sakit yang berhubungan dengan pencernaan. Tapi tidak lantas ini dijadikan alasan untuk tidak berpuasa kan? Kecuali memang dokter tidak menyarankan Anda berpuasa.
Nah, bagaimana kalau puasa untuk si kecil? Menurut psikolog Dr. Rose Mini AP, MPsi, untuk mengajarkan puasa pada anak jangan membuat seolah-olah puasa adalah sebuah beban. Buatlah puasa menjadi hal yang menyenangkan. Misalnya jelaskan padanya kalau puasa itu hanya dilakukan satu tahun sekali. Usahakan dengan memberikan penjelasan sederhana yang bisa dipahaminya. Selain itu bisa juga menjelaskan padanya kenikmatan yang bisa didapat setelah berpuasa 30 hari yaitu berlebaran.
“Jelaskan semua kenikmatan yang mungkin bisa di dapat sehingga dia menjadi menunggu-nunggu bulan puasa,” jelas Dr. Rose Mini AP, MPsi. Intinya adalah tidak akan ada hal-hal yang akan membebaninya dengan puasa.
Untuk pengajarannya, sebaiknya jangan dibebani dengan satu hari penuh tapi secara bertahap.
Anak harus dibingkai sesuai dengan umurnya, kalau dijelaskan dengan pahala atau segala macam belum terbayang dalam pikirannya. Sebutkan hal-hal yang jarang dia anak-anak dapat di hari biasa, misalnya kalau bulan puasa kita bisa makan malam bersama sekeluarga. Setelah berpuasa 30 hari penuh, anak diberi tahu bisa mudik merayakan Lebaran ke rumah kakek dan nenek, paman dan saudara yang lain yang jarang ditemuinya.
Jelaskan juga tidak semua orang melakukan puasa misalnya karena perbedaan agama, apalagi kalau si kecil bersekolah di sekolah umum, kata Rose. “Ajarkan si kecil bangga dengan dia melakukan puasa sehingga dia merasa yang dilakukannya memang baik dan hanya didapat satu tahun sekali,” kata Rose.
Kadang di sekolah saat bulan Ramadhan, guru mengingatkan untuk mereka yang berpuasa dengan ini anak menjadi merasa bahwa gurunya juga memperhatikannya. Kalau anak diajarkan dengan perbedaan sejak awal mereka tidak akan bermasalah. (nam)
1 komentar Agustus 5, 2009
Yuk, Ajak Anak Cinta Buku
Jakarta - Menanamkan cinta buku kepada anak-anak sejatinya dapat dipraktikkan sejak dalam kandungan. Saat hamil sang ibu rajin-rajinlah membacakan sebuah buku atau dongeng.
Selanjutnya aktivitas sejenis juga dilanjutkan pada usia balita. Walaupun si balita belum dapat membaca, Anda dapat mengajarnya ‘membaca’ dan mencintai buku.
Kemampuan membaca dan mencintai buku penting ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini. Karena, kegiatan membaca bersama anak merupakan kegiatan yang sangat penting bagi pembentukan dasar diri si kecil, juga untuk keseluruhan proses belajar anak, kelak.
Anda dapat mulai mengajak anak mencintai buku melalui berbagai cara, antara lain:
1. Memberi buku-buku cerita yang menarik
2. Membuat perpustakaan mini
3. Membacakan cerita secara berkala
4. Bermain tebak-tebakan cerita
5. Membacakan apa saja
6. Menciptakan suatu tokoh
7. Meminta anak ‘membaca’ cerita
8. Membuat buku cerita bersama
9. Mengajak bermain huruf dan angka
10. Memperlihatkan asyiknya membaca
Silakan coba ya. (yat)
Add a comment Agustus 5, 2009
Memahami Remaja dari Kacamata Orangtua
Siapa bilang jadi orangtua itu gampang, selain memenuhi kebutuhan akan materi, memenuhi kebutuhan pendidikan formal dan informal. Selain harus sabar, memahami betul kondisi fisik maupun psikis anak juga penting lho dilakukan orangtua. Apalagi kalau anak yang rasanya baru kemarin dalam gendongan sudah tumbuh beranjak remaja.
Kita juga setuju masa remaja adalah masa yang paling indah, tapi sebagai orang tua masa ini juga menjadi masa yang rawan dengan berbagai kejutan yang dilakukan anak yang mulai menginjak usia remaja ini.
Menurut Ninuk Widyantoro dari Yayasan Kesehatan Perempuan yang juga seorang psikolog, remaja membutuhkan kebutuhan lain yang kadang orangtua tidak akan hal ini. Seorang remaja membutuhkan agar dirinya merasa dihargai, misalnya saat dia menanyakan sesuatu hal yang mungkin masih dianggap tabu di Indonesia mengenai pendidikan seks. Dalam hal ini menurut Ninuk, orangtua harus siap saat dia menanyakan hal-hal ini, jangan berikan penghakiman karena ini membuatnya merasa tidak dihargai dan diperhatikan.
Masa remaja juga merupakan masa peralihan yang membuat mereka labil, karena itu remaja membutuhkan seseorang yang membuatnya merasa nyaman untuk menceritakan segala hal untuk bercerita termasuk ketertarikannya terhadap lawan jenis.
“Semakin seorang anak terbuka dengan orang tua ini akan semakin baik, bahkan terbuka untuk pertanyaan yang mungkin bisa membuat Anda shock, apalagi kalau bukan yang berkaitan dengan seks. Bagaimanapun sebaiknya jangan bereaksi berlebihan saat anak menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan seks,” jelas Ninuk.
Syarat yang harus dimiliki orangtua yang anaknya beranjak usia remaja untuk membicarakan tentang seks antara lain:
1. Orangtua harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang seksualitas
Ini akan memudahkan memberikan penjelasan saat anak ingin mengetahui hal-hal yang membuatnya mendapatkan jawaban yang dicarinya. Daripada dia harus memperoleh informasi yang tak jelas dari teman sebaya atau internet, tak ada salahnya kita belajar menjadi guru menerangkan hal yang seharusnya kita bisa terbuka membahas hal ini dengan anak-anak kita.
2. Memiliki kemampuan interpersonal yang baik
Menurut Ninuk ini juga penting, jadi saat kita terkaget-kaget mendengar pertanyaan anak ekspresi yang berlebihan bisa ditekan seminimal mungkin. Karena anak akan belajar melihat reaksi orang tuanya saat dia menanyakan sesuatu hal. Kemampun ini juga membantu orang tua menyampaikan maksud dan tujuan yang bisa diterima secara baik oleh anak.
3. Keterbukaan
Keterbukaan sangat penting bagi orang tua dan anak, karena itu Ninuk menyarankan sebaiknya sejak kecil orang tua harus bisa menciptakan suasana keterbukaan sejak dini sehingga saat dia menginjak usia remaja sudah tidak ada hal yang canggung untuk diutarakan.
Add a comment Agustus 3, 2009
Berenang Bikin Anak Pintar
Renang. Siapa yang tak suka dengan olahraga yang satu ini selain menyehatkan olahraga yang satu ini. Selain menyenangkan, olahraga ini dianggap sebagai olahaga yang paling ideal.
Hasil penelitian di Melbourne Australia menunjukkan secara statistik IQ anak-anak yang diajarkan berenang sejak bayi lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang tidak diajarkan berenang atau anak yang diajarkan berenang setelah usia 5 tahun.
Para peneliti mengungkapkan bahwa bayi lebih gampang diajarkan berenang karena mereka sangat menyukai air. Bayi yang baru lahir hingga usia tiga bulan biasanya tidak takut tenggelam, karena mereka masih memiliki refleks melangkah sehingga akan membantunya berenang. Selain itu berenang juga membantu pertumbuhan motoriknya karena semua otot tubuhnya akan bekerja.
Nah, jangan rangu mengajari si kecil bermaina ir sejak masih bayi ya.
1 komentar Agustus 3, 2009