KDRT Mata Rantai yang Harus Diputus

Agustus 4, 2009 kidsandstyle

Jakarta – Kasus kekerasan dalam rumah tangga khususnya terhadap perempuan sepertinya tiada henti. Pemberitaan di media massa  hampir setiap hari ada saja berita mengenai kekerasan terhadap perempuan, baik dari kalangan ekonomi rendah sampai yang sangat mapan.

Tengoklah salah satunya,  kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh penyanyi dangdut Cici Paramida. Kekerasan dalam rumah tangga juga dialami oleh istri direktur provider. Padahal kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya menyakiti pasangan tetapi juga anak.

Pertengkaran orangtua di depan anak akan berdampak pada kejiwaan anak. Apalagi terjadi kekerasan bisa membuat anak belajar dari apa yang dilihatnya. Pengalaman kekerasan yang dialami anak bisa mempengaruhi tingkah lakunya ketika menghadapi tekanan.

Menurut psikolog dari fakultas psikologi Universitas Yarsi Octaviani Indrasari, Psi., M.Si bila anak melihat orangtua bertengkar saat menghadapi masalah maka cara tersebut yang akan dipelajari dan dilakukan saat menghadapi masalah serupa di kemudian hari.

Anak belajar dari apa yang dialami dan diamatinya. Sehingga anak akan menganggap memukul pasangan adalah hal biasa yang dapat dilakukan saat marah. Kekerasan dalam rumah tangga bisa membuat anak perempuan belajar untuk menerima menjadi korban karena melihat ibunya dipukul dan tidak menerima perlawanan terhadap suaminya.

Sebaliknya, anak perempuan yang marah terhadap perlakuan ayah terhadap ibunya akan membangun kebencian terhadap lawan jenis. “Anak-anak yang mengalami dan mengamati kekerasan dalam rumah tangga setiap hari akan memiliki persepsi dan keyakinan berbeda dari orang kebanyakan tentang makna hubungan antar pribadi, sehingga mempengaruhi anak saat dewasa nanti dan saat mulai menjalin hubungan dengan lawan jenis,” tutur Octaviani.

Bila pengalaman kekerasan dalam rumah tangga sangat membekas kepada anak maka akan mempengaruhi tingkah laku terutama saat menghadapi tekanan.Kekerasan dalam rumah tangga pun seperti mata rantai sehingga harus diputus.

Octaviani mengatakan pengalaman kekerasan dalam rumah tangga yang begitu membekas harus ditangani sejak dini.Peranan orangtua dan keluarga besar sangat dibutuhkan untuk penyembuhan trauma kepada anak. “Ayah, ibu, dan keluarga besar bisa membantu meluruskan persepsi atau keyakinan anak apa yang terjadi adalah sesuatu insidental, dan tidak bersifat umum misalnya ayah memang orang yang pemarah dan kasar, tapi kakek seorang yang pengasih,” ujar Octaviani.

Trauma yang tidak ditangani akan sangat mempengaruhi bagaimana anak melihat diri dan posisi dirinya dalam kehidupan pernikahan. Octviani mencontohkan anak menempatkan diri sebagai bawahan lebih rendah dan lemah daripada pasangan yang dirinya dianiaya. Sebaliknya, anak bisa menempatkan diri di atas pasangan sehingga bertingkah laku agresif untuk mempertahankan superioritasnya.

“Seperti mata rantai, interaksi ini akan diamati oleh anak-anak mereka, sehingga mereka akan melakukannya di kemudian hari, mata rantai patalogis ini harus diputus dengan melakukan intervensi, terapi psikologis dengan metode cognitive behavior therapy akan sangat membantu,” tambahnya.

Untuk waktu terapi pun sangat bergantung pada kepribadian seseorang yang akan sangat mempengaruhi keterbukaan dalam menerima masukan dari orang lain maupun dari hal yang terjadi dalam hidupnya. Menurut Octaviani, semakin kuat keyakinan anak yang bersifat patologis misal semua laki-laki kejam dan perempuan lemah maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk melemahkan keyakinan tersebut untuk digantikan dengan keyakinan lebih positif terhadap diri dan lawan jenis.

Kekerasan tidak hanya menyakiti pasangan tetapi sangat berpengaruhi pada jiwa anak. Padahal anak berhak mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari orangtua. Octaviani menyarankan orangtua perlu memahami pertengkaran sebenarnya berawal dari perbedaan kepentingan antara suami dan istri bukan antara ayah dan ibu.

Usahakan selesaikan berdua tanpa perlu dilihat anak. Hindarkan mengabaikan suatu masalah sehingga akhirnya terakumulasi dan menjadi lebih sulit untuk dihadapi. Terakhir lakukan instropeksi diri terutama dalam hal pengelolaan emosi. “Perilaku agresif dan permisif sebenarnya merupakan cermin lemahnya kontrol emosi pada individu terkait, bila sulit untuk diselesaikan berdua segera cari bantuan pihak ketiga dari pihak keluarga atau bantuan profesional,” jelasnya.

Bila perpisahan menjadi jalan terbaik maka anak diberitahu dalam situasi tenang dan masing-masing ayah dan ibu berada dalam kondisi emosi stabil. Dengan cara ini anak memperoleh pengalaman suatu masalah dapat diselesaikan dengan cara yang dewasa. Anak dapat melihat perpisahan sebagai sesuatu yang menyedihkan tapi tidak dilihat sebagai sesuatu hal yang mengerikan. (Mel)

Entry Filed under: Parenting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Agustus 2009
S S R K J S M
    Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: